Oleh : Hisyam Zamroni
Tiga puluh lima tahun bukan sekadar penanda usia sebuah perguruan tinggi, melainkan tonggak kedewasaan institusi dalam membaca sejarah, menjawab tantangan zaman, dan merancang masa depan. Peringatan Hari Ulang Tahun ke-35 Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara merupakan momentum strategis untuk meneguhkan kembali peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Di tengah perubahan global yang berlangsung sangat cepat, UNISNU dituntut tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jepara, tetapi juga tumbuh sebagai universitas yang memberi harapan (university of hope) bagi Indonesia bahkan dunia.
Keunggulan UNISNU sesungguhnya bertumpu pada kekayaan sejarah dan peradaban Jepara. Wilayah ini sejak berabad-abad lalu telah menjadi pusat lahirnya tokoh-tokoh besar Nusantara. Nilai-nilai kepemimpinan Ratu Shima menghadirkan teladan integritas, supremasi hukum, dan pemerintahan yang berkeadilan. Semangat maritim Pate Unus memperlihatkan keberanian membangun jejaring antarkawasan dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Kepemimpinan visioner Ratu Kalinyamat menunjukkan bahwa Jepara pernah memainkan peran penting dalam diplomasi dan geopolitik kawasan Asia Tenggara.
Pada masa modern, Jepara melahirkan RM. Sosrokartono, seorang intelektual kosmopolitan yang menguasai banyak bahasa dunia dan menjadi simbol kecendekiaan yang berpadu dengan kemanusiaan. Sementara itu, R.A. Kartini menghadirkan gagasan besar tentang pendidikan, emansipasi, dan pembebasan manusia melalui ilmu pengetahuan. Kelima tokoh tersebut bukan sekadar kebanggaan historis, tetapi sumber inspirasi akademik yang dapat menjadi fondasi identitas UNISNU Jepara sebagai kampus yang mengintegrasikan integritas, keberanian, kecendekiaan, kepemimpinan, dan kemanusiaan.
Namun, kebesaran sejarah tidak akan bermakna apabila hanya menjadi romantisme masa lalu. Sejarah harus ditransformasikan menjadi energi perubahan. Seperti dikemukakan John Henry Newman dalam The Idea of a University, universitas sejati bukan hanya tempat menghasilkan tenaga kerja, melainkan ruang pembentukan intelektual yang utuh, berkarakter, dan mampu berpikir kritis. Perguruan tinggi menjadi penjaga tradisi keilmuan sekaligus pelopor lahirnya gagasan-gagasan baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
Tantangan tersebut semakin besar ketika dunia memasuki era konektivitas global. Marshall McLuhan melalui teori Global Village menjelaskan bahwa perkembangan teknologi komunikasi menjadikan dunia seperti sebuah desa yang saling terhubung. Arus informasi, ilmu pengetahuan, ekonomi, budaya, hingga kompetisi sumber daya manusia bergerak tanpa mengenal batas negara. Dalam konteks ini, perguruan tinggi tidak lagi bersaing hanya dengan kampus di tingkat lokal, tetapi juga dengan universitas-universitas terbaik dunia.
Karena itu, UNISNU Jepara perlu memperkuat internasionalisasi melalui peningkatan kualitas riset, publikasi ilmiah bereputasi, kolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri, pertukaran mahasiswa dan dosen, penguasaan bahasa asing, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran. Globalisasi tidak boleh dipahami sebagai ancaman terhadap identitas lokal, melainkan peluang memperkenalkan nilai-nilai Islam Nusantara dan budaya Jepara kepada masyarakat dunia.
Di sisi lain, kemajuan teknologi tidak selalu menghadirkan optimisme. Dunia saat ini juga menghadapi krisis kemanusiaan, kesenjangan sosial, perubahan iklim, serta disrupsi kecerdasan buatan. Dalam situasi demikian, pendidikan memerlukan paradigma yang melahirkan harapan. Paulo Freire melalui Pedagogy of Hope menegaskan bahwa pendidikan adalah proses membangkitkan kesadaran kritis sekaligus menumbuhkan optimisme bahwa manusia mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kampus harus melahirkan lulusan yang tidak sekadar mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
Harapan tersebut perlu diperkaya dengan pendekatan Pedagogy of the Heart yang menempatkan empati, kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai inti pendidikan. Kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan moral hanya akan menghasilkan kemajuan yang kehilangan arah. Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas hati nurani akan melahirkan inovasi yang berpihak kepada kemaslahatan manusia.
Nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan tradisi pendidikan Nahdlatul Ulama yang menekankan keseimbangan antara ilmu, akhlak, spiritualitas, dan pengabdian sosial. Sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Nahdlatul Ulama, UNISNU memiliki modal sosial yang kuat untuk mengembangkan pendidikan yang unggul secara akademik sekaligus kokoh dalam nilai-nilai keislaman moderat, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.
Ke depan, arah pengembangan UNISNU tidak cukup hanya diukur melalui jumlah mahasiswa atau pembangunan gedung. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah kualitas lulusan, produktivitas riset, kontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat, penguatan ekonomi daerah, serta pengakuan di tingkat nasional dan internasional. Kampus harus menjadi pusat lahirnya inovasi yang mampu mengembangkan potensi unggulan Jepara, mulai dari industri mebel, ekonomi kreatif, teknologi maritim, pariwisata, hingga pendidikan Islam.
Usia ke-35 hendaknya menjadi awal lompatan baru. Dengan berpijak pada warisan Ratu Shima, Pate Unus, Ratu Kalinyamat, RM. Sosrokartono, dan R.A. Kartini, serta diperkaya perspektif Global Village, Pedagogy of Hope, dan Pedagogy of the Heart, UNISNU Jepara memiliki modal yang kuat untuk tampil sebagai universitas yang berakar pada kearifan lokal, berwawasan nasional, dan berdaya saing global.
Penutup
Perguruan tinggi besar selalu lahir dari keberanian memadukan sejarah dengan inovasi. Apabila semangat itu terus dijaga, maka UNISNU Jepara tidak hanya akan dikenang sebagai universitas yang telah berusia 35 tahun, tetapi sebagai pusat peradaban baru yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, berintegritas, serta mampu memberi harapan bagi masyarakat, bangsa Indonesia, dan dunia.
Penulis adalah Alumni Prodi Akta IV Fakultas Tarbiyah UNISNU Jepara dan Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara