Oleh: Amir Machmud NS
// dengan cahaya terang/ dia telah melengkapi nyala hidup/ dalam kemilau karier yang diimpikan/ dia berlabuh/ di pelabuhan yang diidambakan…/
(Sajak “Rodri”, 2026)
SULIT menemukan pemain yang “mengkhatamkan” jejak panjang karier dengan sukses dari titik ke titik. Suka-duka, naik-turun, berjuang-berjaya, dengan warna keterpurukan dan kebangkitan.
Dunia sepak bola mengenal Rodri, kapten tim nasional Spanyol, jangkar klub Manchester City, dan kini berlabuh di Barcelona. Ya, Rodri Hernandez Cascante, Pemain Terbaik Piala Dunia 2026.
Dia tidak tampil dengan publisitas yang “bla-bla-bla”, setidak-tidaknya seperti ekspose media terhadap Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo yang penuh warna, namun peran nyata dalam permainan betul-betul dia tunjukkan.
Rodri fungsional dalam orkestrasi permainan tim. Dia lebih tampil sebagai “bintang dalam diam”. Tenang, namun mengundang ketakjuban karena kecerdasan dan kepemimpinannya.
Gelandang bertahan yang berkembang dari Akademi Villarreal dan matang Atletico Madrid itu akhirnya meraih impiannya, pindah ke klub Catalunya, Barcelona setelah melewati tarik-ulur negosiasi transfer dengan Real Madrid yang juga berminat memboyongnya.
Pemain Langka
Rodri menjadi gambaran pemain yang tak hanya sukses di level klub, tetapi juga tim nasional. Penghargaan-penghargaan individual dia raih. Trofi Golden Ball Piala Dunia 2026 melengkapi Ballon d’Or yang didapatkan pada 2024. Pemain Terbaik Euro 2024 dan final UEFA Nation’s League masuk perbendaharaan lemari trofinya.
Dia adalah simbol pemain yang “khatam” meniti karier dengan lika-liku naik-turun yang patut dicatat dalam sejarah. Boleh dikata, Rodri adalah pemain bertahan dengan capaian langka. Bahkan kalau pada 2024 tidak terkena cedera ACL, dia akan mendunia dengan lebih cepat.
Dalam sejarah Ballon d’Or, dari posisi pemain bertahan, sebelumnya hanya Franz Beckenbauer (1972, 1976), Lothar Mathaeus (1990), Mathias Sammer (1996), dan Fabio Cannavaro (2006) yang meraihnya, karena rata-rata penghargaan itu didapatkan oleh para penyerang.
Rodri masuk deretan elite. Hanya ada tujuh pemain yang pernah memenangi Piala Dunia, Ballon d’Or, Liga Champions, dan turnamen kontinental. Rodri mengikuti jejak Beckenbauer, Gerd Mueller, Zinedine Zidane, Rivaldo, Ronaldinho, dan Lionel Messi.
“Rasanya seperti skenario yang sempurna. Saya tidak menyangka,” katanya seperti dirilis Reuter, ketika terpilih sebagai pemenang Golden Ball Piala Dunia 2026 (detik.com, 20 Juli 2026).
“Saya ingin generasi muda melihat, seorang pemain yang pernah berada di puncak kemudian terpuruk ke neraka, bisa kembali. Ini adalah pelajaran untuk mengatasi kesulitan,” ujarnya tentang cedera ACL yang menimpanya pada 2024.
Cedera ACL adalah jenis cedera serius, robekan pada ligamen krusiat anterior, salah satu jaringan ikat utama di dalam sendi lutut yang menghubungkan tulang paha dengan tulang kering.
Pemain Cerdas
Dua pelatih yang pernah menangani, mengakui keistimewaan Rodri. Pep Guardiola menilainya sebagai pemain cerdas dengan kekuatan fisik luar biasa. Sedangkan pengganti Pep di City, Enzo Maresca menyatakan Rodri ada di level top. Kualitasnya dibutuhkan oleh setiap tim.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick yakin, Rodri akan menjadi amunisi luar biasa. Dia transformatif bagi lini tengah Barca.
Rodri mengidolakan Zinedine Zidane, juga Sergio Busquets yang digantikannya sebagai gelandang jangkar La Furia Roja. Semula, diperkirakan Rodri akan menerima pinangan Real Madrid, klub asal kota kelahiran dan identik dengan Zidane, namun akhirnya dia memilih Barcelona, klub Sergio Busquets yang juga dia idolakan.
Hansi Flick memproyeksikan, Rodri akan mentransformasikan warna baru. Dengan Pedri Gonzales, Frenkie de Jong, Fermin Lopez, dan Dani Olmo, skema lini tengah Barca bakal menjadi makin kaya dan fleksibel.
Tirai pertahanan lapis pertama Blaugrana akan menjadi lebih solid dan mantap…
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —